Di Indonesia Timur, pilihan moda punya konsekuensi yang jauh lebih besar daripada di Jawa. Selisih antara laut dan udara untuk rute Makassar–Jayapura bisa mencapai delapan kali lipat, dengan selisih waktu sekitar sepuluh hari. Keputusan yang salah arah akan terasa setiap bulan.
Empat pertanyaan penentu
- Berapa nilai barang per kilogram? Di atas Rp 400.000 per kg, biaya udara mulai masuk akal karena biaya modal yang tertahan di perjalanan menjadi signifikan.
- Apa konsekuensi keterlambatan? Menahan lini produksi atau kehilangan tender berbeda kelas dengan menunda restock yang stoknya masih aman.
- Apakah volumenya rutin? Volume rutin membenarkan kontrak laut dengan alokasi ruang kapal tetap, yang jauh lebih murah dan lebih dapat diprediksi.
- Seberapa sensitif barang terhadap waktu tempuh? Produk segar dan reagen berumur pendek sering tidak punya pilihan selain udara atau reefer dengan jadwal ketat.
Pola yang berulang di praktik
Perusahaan yang biaya logistiknya paling terkendali biasanya tidak memilih satu moda. Mereka memakai laut sebagai tulang punggung untuk 85–90% volume, lalu menyisakan anggaran udara untuk kebutuhan mendesak yang memang tidak dapat direncanakan. Yang mahal bukan pemakaian udara, melainkan pemakaian udara karena perencanaan yang terlambat.
Multimoda: bukan kompromi, tapi rancangan
Kombinasi laut untuk jarak jauh dan darat untuk penyebaran akhir sering memberi hasil terbaik: biaya mendekati laut, keandalan mendekati darat. Kuncinya adalah gudang transit di titik yang tepat, sehingga barang tidak menunggu lama saat berpindah moda.
Dewi Anggraini
Operations Manager · DPS Cargo
Punya pertanyaan lanjutan tentang tulisan ini? Tim kami terbuka untuk membahasnya langsung dengan kasus Anda.
